Senin, 29 September 2008

9 Titik Dipantau untuk Tentukan Hilal 1 Syawal

Anwar Khumaini - detikNews
Jakarta - Departemen Agama (Depag) rencananya akan menggelar sidang isbat untuk menentukan penetapan 1 Syawal. Namun sebelumnya dilakukan pemantauan datangnya hilal di 9 titik di berbagai wilayah Indonesia.

Pantauan detikcom di Gedung Depag, Jl Pejambon, Jakarta, Senin (29/9/2008) tampak hadir Menag Maftuh Basyuni, Menkom Info M Nuh, serta beberapa organisasi seperti dari Bosscha, dan beberapa organisasi islam.

Ada pun 9 titik yang dipantau yakni Lhok Nga di Aceh, Bosscha di Lembang, Masjid Agung Semarang, Condrodipuro di Gresik, Tanjung Kodok di Lamongan, Mal GTC Tanjung Bunga di Makassar, dan di Kupang NTT.

Pemantauan hilal atau melihat awal bulan ini dimulai sekitar pukul 17.00 WIB, lepas itu rencananya akan digelar sidang isbat pada pukul 19.00 WIB.(ndr/ken)

Sumber : Detik dot Com

7 Titik Pemantau Hilal Tak Bisa Melihat Bulan

Jakarta - Memasuki hari ke-29 Ramadan, di 7 titik pemantau hilal tidak terlihat adanya bulan baru. Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari.

Pemantauan 7 titik hilal di Indonesia itu telah dilaksanakan hari ini. Berdasarkan hasil sementara sidang isbat yang berlangsung pada Senin (29/9) di Departemen Agama, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, dari semua lokasi yang dipantau tidak terlihat adanya hilal atau bulan.

Karena Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga Lebaran jatuh pada 1 Oktober 2008.

Seperti di NTT, pengamat di sana tidak bisa melihat hilal meski cuaca sangat bagus. Hingga matahari terbenam, alat teropong bulan tidak bisa melihat posisi hilal.

Sementara di daerah Aceh di Lok Ngah, yang cuacanya tertutup mendung tebal, peneropong tidak bisa melihat hilal. Begitu juga 5 daerah yang lain, seperti Bosscha Lembang Bandung, Masjid Agung Semarang, Condrodipo Gresik, Tanjung Kodok Lamongan, dan Mal GTC Tanjung Bunga Makassar.

Selain disebabkan cuaca buruk, di beberapa lokasi hilal tidak bisa dilihat karena posisi hilal sangat dekat dengan matahari. Hal ini terjadi di Bosscha Lembang Bandung, karena posisi bulan di atas matahari sehingga bulan masih tertutup cahaya matahari. Demikian juga di daerah Tanjung Kodok Lamongan.(ken/ndr)

Sumber : Detik dot Com

Saya Meneteskan Air Mata atas Perlakuan Mereka

K.H. Qaimoeddien Thamsy, SH. - Tokoh Ulama dan Pengurus Pusat Syarikat Islam Indonesia, Tokoh Islam Indonesia Timur, Ketua MUI Jakarta Pusat

Perkenalan saya dengan LDII belum terbilang lama, tetapi sebelumnya saya mengenal betul Islam Jama’ah. Mulai dari awal kelahirannya, bahkan sampai mengetahui dan mengenal jama’ah LDII. Saya pernah terkontaminasi dan terpengaruh dengan ajaran Islam Jama’ah. Bahkan, saya pernah masuk di dalamnya dan mendakwahkan Islam Jama’ah sewaktu masih muda, sekitar tahun 1960-an di Malang, Jawa Timur.

Pada mulanya Islam Jama’ah bernama Darul Hadits. Saya memahami betul masalah itu, dan Saya pun dikenal dengan baik oleh kalangan Islam Jama’ah. Sewaktu adik saya masuk Islam Jama’ah, ia marah habis-habisan, karena kelompok ini dipandang oleh masyarakat luas sebagai aliran sesat. Adik saya adalah seorang anggota TNI Angkatan Laut di Surabaya, dan atasannya adalah R.E. Martadinata, seorang tokoh Islam Jama’ah yang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut. Dengan menggunakan pengaruhnya, ia mengajak anak buahnya untuk masuk Islam Jama’ah, di antaranya adik saya.

Pada tahun 1967, saya pergi ke Jakarta. Oleh adik saya, saya dibekali surat supaya bisa masuk ke Tawakkal (nama sebuah jalan di Jakarta tempat Islam Jama’ah berpusat). Saya masuk ke sana dan sempat memberikan ceramah-ceramah. Saya sempat ikut pengajian-pengajian di sana. Wah sesat juga, komentar saya waktu itu. Pada awalnya, saya sempat diterima, tetapi masih dicurigai juga. Akhirnya, saya terdepak dan mulai saat itu berhadapan langsung vis a vis dengan mereka.

Mulai saat itu, di Jakarta sudah berkembang pertama di Tawakkal. Saya tahu betul, dan saya kembali ke Surabaya. Saya suruh adik saya keluar karena beberapa ajarannya, seperti masalah nikah, masalah jenazah, masalah orang tua, bahaya sekali. Dan manqulnya itu jelas. Pokoknya yang aneh-aneh. Sebagai orang muda, pada waktu itu saya umur 26 tahun, saya dilarang oleh Bapak K.H. Dalai Umar, tokoh ulama pada waktu itu.

Pada tahun 1990, atas dasar pidato pengarahan Rudini selaku Menteri Dalam Negeri, dan Sudharmono SH selaku Wakil Presiden LEMKARI mengubah namanya menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dikarenakan nama LEMKARI memiliki kesamaan singkatan dengan Lembaga Karatedo Indonesia. Kedua arahan pejabat pemerintah tersebut dan masukan baik pada sidang-sidang komisi maupun sidang paripurna dalam Musyawarah Besar IV LEMKARI tahun 1990, selanjutnya perubahan nama tersebut ditetapkan dalam Keputusan MUBES IV LEMKARI No. VI/MUBES-IV/LEMKARI/1990, Pasal 3 yaitu mengubah nama organisasi dari Lembaga Karyawan Dakwah Islam yang disingkat LEMKARI menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang disingkat LDII.

Pada waktu mereka ingin bertemu Bapak Fauzi Bowo (waktu masih menjadi Wagub) karena mereka akan mengadakan Rakerda waktu itu, lantas Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang dan Linmas) mengundang saya. Saya selaku pribadi datang kesana. ”Ini apa-apaan. LDII itu jelas kotor.” Saya bilang kepada Bapak Fauzi Bowo, ”jangan datang.”

Kemudian saya diundang ceramah di masjid mereka dengan Camat setempat. Sewaktu ceramah saya bilang, setelah saya pergi dari sini (tempat duduk saya dengan Bapak Camat) dibersihkan, nanti akan berhadapan dengan saya. Lalu mereka ketawa ha ha ha. Karena mereka itu belum tahu Islam Jama’ah tahun 1960-an, termasuk Gunawan dkk dan pengurus Masjid. Saya minta kalau memang betul-betul berubah, buktikan.

Saya katakan kepada mereka, apakah bisa jadwal ceramah/khutbah di masjid kalian, kita barter? sehingga kita bisa ceramah/khutbah di masjid LDII. Saya tunggu, dan itu mereka lakukan. Bukan hanya saya yang memberikan ceramah, tetapi Saudara Mabrur Abduh dan Arif juga memberikan ceramah di kalangan LDII Jakarta Utara.

Mencuci Masjid waktu Islam Jama’ah pernah saya lihat, tetapi di LDII sama sekali tidak. Orang kan semuanya terbius dengan pengalaman masa lalu. Selama sudah merubah paradigmanya, saya pernah tunjuk mereka, mana buktinya, mereka bohong. Saya pernah ketemu dengan Bambang Irawan. Sebenarnya mereka cuma dengar-dengar, cerita-cerita pengalaman masa lalu, karena mereka tidak pernah terjun langsung. Saya tidak percaya jadinya. Banyak muballigh-muballigh yang mengekspose hal-hal yang ”katanya dan katanya.” Seharusnya mereka terjun langsung, ia buktikan, ia cari di mana sumbernya. Saya pernah marah dengan Pak Ardani dan Pak Hamdan (Pengurus MUI Jakarta) dengan ungkapannya, tetapi saya minta untuk membuktikan, bukan katanya. Jangan sampai jadi fitnah. Ini pengalaman masa lalu. Kasihan mereka, sekarang sudah ada perubahan paradigma.

Saya beri contoh begini. Pernah mereka (orang LDII) ke rumah. Istri saya itu kan trauma, karena pada tahun 1970-an saya punya pengajian di Grogol, kemudian masuklah Islam Jama’ah ini, lalu mereka terbawa sakit hati kita. Banyak anak kita yang masuk ke sana, lalu dia katai habis-habisan kepada tokoh LDII, waktu mereka datang ke rumah. Mereka mengatakan, ”Begitu ya Bu bahwa LDII itu begitu-begini… Bukan begitu ajaran LDII Bu… Kalau seperti itu, kami akan keluar sama sekali, tidak ada Pak Thamsy, tidak ada seperti yang Ibu katakan tadi. Masalah Islam Jama’ah kami tidak tahu, mengkafirkan orang, kawin tidak sah karena dinikahi begitu saja, masalah tobat pencucian dosa, dan sebagainya, itu tidak ada” Saya sering berhubungan dengan orang LDII, bahkan di rumah saya mereka sering datang.

Kesan saya terhadap LDII sangat luar biasa. Ukhuwah ada di LDII dan saya tidak muja-muji luar biasa tentang kedisiplinan, rokok diharamkannya, salaman dengan perempuan yang bukan muhrim tidak diperbolehkan. Hebat! Mereka kalau memuliakan tamu memang luar biasa. Saya kan pernah ke Batam. Luar biasa mereka memuliakan tamu. Sampai saya meneteskan air mata atas perlakuan mereka kepada kami berempat.
Sumber: http://afternewparadigm.blogspot.com

Jangan Memvonis Karena Kenyataannya Sudah Berubah

K.H. Azhari Abas - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kepulauan Riau

Memang, dulunya LDII dianggap eksklusif. Tapi yang terakhir kita lihat, apalagi hasil Rakernas baru-baru ini, tidak. Makanya hasil Rakernas harus disosialisasikan. Kalau saya lihat, penyimpangan sudah tidak ada lagi. Sekarang, secara garis besar sudah tidak ada lagi. Cuma sekarang kita harapkan agar LDII harus mampu sosialisasikan ke masyarakat.

Kalau saya lihat untuk selama ini, karena saya dekat dengan Ketua LDII Batam. Cuma emang saya harapkan, tokoh-tokoh LDII harus mampu sosialisasikan hasil Rakernas. Memang saya akui bahwa ada sebagian masyarakat yang masih berbekas eksklusifnya. Mereka siap ikuti imam siapa saja. LDII yang dulu eksklusif, sekarang malah yang paling aktif. Di mesjid LDII juga, bukan hanya saya yang sudah kenal baik dengan tokoh LDII, tapi juga banyak yang lainnya. Sudah tidak ada masalah lagi. Orang LDII juga sudah shalat di mana-mana. Sudah bermakmum ke mana-mana, sudah berimam ke mana-mana.
http://afternewparadigm.blogspot.com

NU, LDII dan PKS Santuni Yatim dan Lansia

Ratusan anak yatim piatu dan lansia memperoleh santunan dari sejumlah organisasi di Kabupaten Demak. Semalam, NU dan LDII Mranggen telah menyantuni 75 anak yatim dan lansia di Masjid Baitunnaim, Kembngarum Mranggen. Sedangkan Sabtu pagi tadi, Paguyuban Keluarga Sejahtera (PKS) Sedyo Basuki Demak juga melakukan hal yang sama, di kediaman almarhum H Zaenuri Eksan di Jalan Bhayangkara 31 Demak.

KH Abdurohman, ketua panitia mengatakan, pemberian santunan ini dalam rangka menyambut 10 Muharam. Adapun kerja sama warga NU dan LDII Kecamatan Mranggen dalam menyantuni yatim piatu akan dilakukan secara berkesinambungan. Bila dibanding tahun lalu, jumlah penerima santunan kali ini lebih banyak.

Sedangkan Supardi SSos MSi, Ketua LDII Kecamatan Mranggen menambahkan, LDII memperhatikan lingkungan. Terlebih lagi terhadap yatim piatu. Meski jumlah santunan relatif kecil, namun diharapkan bisa meringankan beban mereka.

“Pemberian yang sudah berlangsung beberapa tahun ini, ke depan diharapkan bisa lebih baik lagi. Sebab, pemberian santunan kepada yatim piatu dan lansia merupakan langkah positif,” tambahnya.

Kerja sama warga NU dan LDII Mranggen kedepan bisa lebih ditingkatkan. Bahkan diharapkan bisa berlangsung hingga hari akhir nanti. “Kerukunan sesama muslim terus dijalin dan ditingkatkan. Sehingga bisa berbuat lebih banyak untuk sesama. Karena orang yang baik adalah orang yang berguna bagi orang lain,” ujarnya.

Sementara Ketua MUI Mranggen, KH Sonhaji Sulaiman yang hadir dalam acara itu menjelaskan, kerja sama kemanusiaan yang dilakukan NU dan LDII patut dicontoh. Karena sesama muslim memang harus begitu. Terlebih lagi kedua organisasi ini peka terhadap keadaan lingkungan.

“Kerukunan ini bisa lebih ditingkatkan, dengan cara mengendeng organisasi lain. Meski tidak muslim asal tidak memusuhi Islam, tak ada salahnya bila kita ajak kerja sama dan kita rangkul,” pungkasnya.

Sedangkan santunan kepada 40 anak yatim diserahkan langsung oleh Ketua PKS Sedyo Basuki Siti Nurhayati, disaksikan Ketua RT 06/07 Kelurahan Bintoro Hadiri SPd dan segenap warga Bhayangkara.

Pada saat sama masyarakat Desa Kalikondang Kecamatan Demak Kota juga menyalurkan santunan kepada 100 anak yatim piatu di Masjid Al Mutaqin, yang dilanjutkan dengan pengajian umum.

Ketua panitia KH Abu Mansur menyampaikan, dana santunan yang diberikan kepada para yatim merupakan sumbangan para jemaah masjid dan sejumlah donatur.

Sementara Kapolres Demak AKBP Eko Indra HS memeringati Hari Asyura dengan mengajak puluhan anak yatim ke tempat rekreasi. Selain memberikan hiburan sambil mengisi liburan sekolah para anak yatim, kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mengajarkan anak-anak personel polres tentang cara berbagi dengan sesama. Sebagaimana makna tersirat dari Lebaran Yatim itu sendiri. ssi/Jon (http://www.wawasandigital.com)