Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 September 2008

Nasehat Untuk Raja Dzalim

Seorang gadis kecil sedang berada di rumah sendirian. Ketika ia melongok ke luar jendela, dilihatnya seorang lelaki agak tua menuju pintu rumahnya. “Siapa gerangan?”, pikirnya. “Sepertinya bukan orang dari lingkungan sekitar sini”.

Benar, tak lama kemudian terdengar ucapan, “Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumussalam”,jawab gadis itu. “Oh, mari silahkan masuk tuan.. Mungkin sebentar lagi orang tua kami juga akan pulang. Karena setiap mahgrib kami selalu shalat berjamaah”. Tamu itu terpana. Ia mundur selangkah seraya bertanya, “Di mana orang tuamu? Mengapa gadis kecil sepertimu berani mempersilahkan aku masuk? Padahal kau kan belum kenal siapa aku?”“Ayah pernah mengatakan bahwa siapa saja yang mengucapkan salam, tentunya itu orang yang baik. Demikian juga almarhum ibuku mengatakan bahwa salam itu berarti mendoakan keselamatan dan memohonkan rahmat Alloh”, jawab gadis itu. Tamu itu kagum mendengar ucapan gadis kecil itu. Karenanya ia merasa malu dan merasa tanggung jawab untuk berlaku sopan. Tetapi ia masih ingin menguji gadis itu.“Apakah engkau tidak merasa takut tinggal di rumah sendirian?”“Siapa bilang saya sendirian tuan. Saya dan begitu juga dengan tuan tidak pernah sendirian. Kita semua selalu didampingi pengawal setia malaikat yang akan mencatat segala amal perbuatan kita yang harus kita pertanggungjawabkan di hari kiamat nanti. Tentu saja tuan lebih tahu daripada saya…”, potong gadis kecil itu.Tamu itu menunduk dan berfikir..”Pantas kampung ini tampak nyaman, aman, bersih, segar, karena hampir tiada gerak untuk iblis di sini”, gumamnya dalam hati. Ketika ayah gadis itu pulang, keduanya berjabat tangan dengan akrab. Tuan rumah mengijinkan sang tamu itu bermalam di rumahnya. “Di sini jauh dari kota. Jadi yang bisa kami hidangkan hanya susu perasan sendiri. Silahkan tuan”, ucap orang tua gadis tersebut mengeluarkan hidangan seadanya. “Alhamdulillah!” ucap tamu itu. “Mari diminum tuan!” Setelah keduanya minum susu perahan itu, sang tamu kemudian bertanya,”Berapakah susu yang dapat diperah setiap hari, dan berapa ongkosnya?”“Kira-kira tiga puluh liter setiap harinya, dan tidak pakai ongkos karena rumputnya tinggal dicari dan kami menggembalakannya sendiri. Jadi, tidak harus mengeluarkan upah untuk orang lain”. Tamu itu mengerutkan dahi,”Se-harusnya ada upeti buat raja di sini karena hasilnya cukup lumayan banyak”, kata sang tamu.“Tapi…”, sela gadis kecil yang sejak tadi duduk bersama ayahnya itu. “Semua barokah Alloh akan sirna jika raja selalu menarik upeti dari rakyat. Karena itu adalah kedzaliman.” Lagi-lagi sang tamu itu terperanjat mendengar ucapan gadis kecil itu. Seolah-olah ia merasa tersindir. Alangkah lancangnya mulut anak ini. Gadis yang sejak pertama dikaguminya itu, seakan-akan telah membaca suara hati dan niatnya. Sehingga semalaman ia sulit memejamkan matanya. Tetapi memang diakuinya bahwa betapa aman, tenang dan sederhananya hidup bapak dan anak itu. Tentu saja semua ini karena keyakinannya atas barokah Alloh SWT.

Pagi harinya, seusai shalat subuh, sang tamu diberi hidangan makanan dan susu. Tapi tiba-tiba, gadis kecil itu masuk dan berkata, “Tak seperti biasanya ayah! Sapi-sapi kita tak mau mengeluarkan susu. Apakah ada niat dari raja untuk menarik upeti kepada kita yang terpencil ini? Sebab bila raja berbuat dzalim, maka barokah Alloh akan hilang”.Tamu itu amat terkejut. Ia lalu segera keluar bersama gadis itu menuju ke tempat sapi-sapi yang sedang diperas itu, seraya berkata,”Tenangkan hatimu nak, raja tidak akan berbuat dzalim. Aku akan pergi menghadap raja ke istana. Akan kulaporkan kejadian disini, agar raja menjadi sadar. Jika ia baik dan berusaha mensejahterakan rakyatnya, tentu kita akan terus dibarokahi Alloh”. Baiklah”, kata gadis itu sambil mengangguk.Baru saja tamu itu menyelesaikan kalimatnya, gadis itu mulai mencoba lagi memerah susu. Dan sungguh ajaib, susu itu keluar lagi dengan lancarnya karena raja telah membatalkan niatnya yang buruk untuk menuntut upeti. Tanpa sepengetahuan gadis kecil dan ayahnya ternyata tamu yang menginap semalaman tersebut adalah tidak lain sang raja sendiri yang sedang menyamar melihat-lihat keadaan rakyatnya. Pada mulanya memang ia berniat untuk mencari sumber-sumber baru untuk bisa menarik upeti. Tapi akhirnya dengan kejadian tersebut, sang raja pun akhirnya membatalkan niatnya. Demikianlah kiranya dapat kita mengerti, bahwa kedzaliman seorang pemimpin, hanya akan membawa kesengsaraan bagi rakyatnya, dan dijauhkan dari barokah Alloh SWT. [Ust.H. Dave Ariant Yusuf]

Sumber : Nuansa Online

Jumat, 05 September 2008

Mengejar Pahala di Madinah Al-Munawwaroh

Biasanya, udara di Kota Madinah di malam hari mencapai hampir 40 derajat celcius dan di siang hari bisa mencapai 50 derajat celcius. Serasa berdiri disamping api yang membara dan kulit muka seperti terbakar dan mengelupas. Namun bulan Ramadhan dengan segala pahala dan maghfiroh yang dijanjikan oleh Allah menjadi motivasi dari jamaah yang berkunjung ke Madinah Al Munawwaroh (kota yang bersinar) sebagai kota kebanggaan Nabi Besar Muhammad saw, sehingga suhu ekstrim tadi tidak menjadi penghalang untuk beribadah.
Apalagi pada malam hari kita bisa masuk ke Masjid Nabawi yang sejuk seraya menikmati air zamzam. Selain itu, ibadah di Masjid Nabawi juga mendapat pahala seribu derajat dibanding ibadah di masjid lain, kecuali Masjidil Haram yang pahalanya seratus ribu kali.

Namun tidak sedikit jamaah yang setelah melaksanakan shalat isya berjamaah memilih ‘towaf’ di hutan beton yang mengelilingi Masjid Nabawi. Pasalnya, di sekitarnya ada toko, mal, kedai, sampai penjual emperan yang menawarkan berbagai barang, mulai dari jam tangan berkelas sampai rumput fatimah. Ada juga aneka jajanan yang menggiurkan setelah berpuasa di siang hari, seperti kebab, roti kari, dan berbagai jenis kurma.
Apalagi jarak dari Masjid Nabawi dengan lokasi ‘towaf’ itu tidak begitu jauh, hanya kurang lebih seratus meter. Meskipun berdekatan, namun suhu udara begitu ekstrim. Tatkala kita berjalan diantaranya, udara panas yang langsung menyergap tubuh dan muka bisa mencapai 40 derajat celcius,.

Pada hari kedua, subhanallah, cuaca di Kota Madinah sungguh di luar dugaan, yakni mendung dan sejuk. Hal ini membuat seluruh jamaah semakin bersemangat beraktivitas dan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah maupun ziarah ke tempat-tempat bersejarah.

Terdapat banyak keutamaan Kota Madinah, antara lain:
1. Shalat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali dibandingkan ibadah di masjid-masjid lainnya di bumi ini, kecuali Masjidil Haram.
2. Sholat di Raudha dalam Masjid Nabawi sama dengan berjalan-jalan dan shalat di taman surga.
3. Berziarah ke makam nabi Muhammad saw sama dengan mengunjungi rumah Nabi sewaktu beliau hidup.
4. Sholat di Masjid Quba, yakni masjid yang pertama kali dibangun oleh Nabi ketika hijrah ke Madinah, pahalanya sama dengan satu kali umroh.

Selain itu kita juga dapat mengunjungi tempat-tempat bersejarah lainnya seperti Masjid Kiblatain atau masjid yang memiliki dua kiblat, yakni menghadap ke Mesjidil Aqsa dan satu lagi menghadap ke Baitullah. Disinilah turun wahyu berupa Surat Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan Nabi Muhammad menghadap Masjidil Haram.

Kita juga dapat mengunjungi masjid-masjid para sahabat Nabi di dekat lokasi perang khandak. Inilah perang yang sangat bersejarah dimana ketika akan diserang oleh orang kafir Nabi Muhammad dan para sahabat menggali parit sebagai benteng pertahanan sehingga orang kafir tidak dapat menyerang karena terhalang parit. Ada juga lokasi Jabal Uhud tempat terjadinya perang dahsyat dimana orang Islam mengalami kekalahan dan tewasnya paman Nabi, yaitu Hamzah.

Tentu tidak ketinggalan kita juga bisa berkunjung ke pasar kurma dekat kebun kurma. Disana terdapat kurma Nabi. Dalam hadits dikatakan bahwa barang siapa yang memakan kurma Nabi sebaganyak tiga, lima, atau tujuh butir di waktu pagi akan dilindungi oleh Allah dari kekuatan sihir sampai esok pagi. *)
Laporan dari Madinah Oleh: H. M. Hidayat Nahwi Rasul

Sumber : http://nuansaonline.net/index.php?option=com_content&task=view&id=113&Itemid=1